Kehidupan dalam Bayangan: Enam Bulan Di Bawah Pengawasan ICE di Chicago

9

Selama berbulan-bulan, komunitas imigran di Chicago hidup di bawah bayang-bayang ketakutan yang mengerikan: penggerebekan ICE yang acak dan tidak dapat diprediksi yang memadukan penegakan performatif dengan teror yang sesungguhnya. Suasananya bukan hanya tentang peningkatan penegakan hukum; ini tentang perasaan diburu. Sejak bulan September, operasi ICE telah meningkat dari patroli yang terlihat menjadi taktik agresif – termasuk serangan helikopter yang aneh di gedung apartemen South Side dengan agen yang turun ke bawah, senapan terhunus, karena keluhan kecil tentang jongkok. Intinya adalah keacakan; hal ini membuat seluruh lingkungan dilumpuhkan karena kecemasan.

Meningkatnya Ketakutan

Situasi mencapai titik puncaknya ketika agen ICE menembak dan membunuh Silverio Villegas González, seorang ayah yang tidak bersenjata, ketika dia mencoba melarikan diri. Ini bukanlah insiden yang terjadi satu kali saja. Agen mulai mengintai di lokasi sehari-hari – toko kelontong, gedung pengadilan, tempat parkir – sehingga membuat keluarga tidak bisa merasa aman. Ketakutan menyebar melalui informasi dari mulut ke mulut, media sosial, dan video viral yang menunjukkan penahanan agresif, termasuk seorang guru Kolombia yang diusir dari kelasnya di tengah pelajaran.

Kerugian Manusia akibat Ketidakpastian

Ava dan Sam, pasangan imigran yang tinggal di Chicago, mewujudkan ketakutan ini. Sam tiba pada tahun 2022, membayar $12.000 untuk melintasi perbatasan dengan berjalan kaki. Ava menyusul kemudian, berharap masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Mereka bekerja tanpa kenal lelah, mengirimkan uang ke rumah sambil menanggung beban emosional akibat perpisahan. Putri mereka menangis mencari janggut ayahnya di malam hari, dan putra mereka putus asa di sekolah, memohon untuk mengetahui kapan dia akan bertemu ayahnya lagi.

Pihak keluarga sempat terhibur dalam mengajukan Status Dilindungi Sementara (TPS), namun prosesnya tidak bisa diandalkan. Ava menerima tanggal wawancara, melakukan perjalanan ke El Paso, dan menjalani pertanyaan invasif dan penggeledahan telanjang. Meskipun mengalami cobaan berat, dia dibebaskan dan bertemu kembali dengan Sam di Chicago. Selama setahun, mereka membangun kehidupan: kelas bahasa Inggris, klinik untuk perkembangan kondisi putri mereka, dan bahkan momen kegembiraan di The Bean, yang mencerminkan cakrawala di wajah mereka yang penuh harapan.

Kembalinya Ketakutan

Lalu datanglah penggerebekan. Jaringan pengawasan ICE sangat luas dan merugikan pembayar pajak sebesar $85 miliar berdasarkan anggaran Trump. Badan tersebut sekarang menyebarkan pembaca plat nomor, pengenalan wajah, dan bahkan spyware dari sebuah perusahaan Israel. Namun, meski ada teknologi ini, penggerebekan tetap kacau. Agen menghentikan orang berdasarkan penampilan, salah mengira warga sebagai penjahat, dan menciptakan iklim paranoia yang terus-menerus.

Ava dan Sam kini hidup bersembunyi. Mereka mengambil tindakan pencegahan: Sam bersepeda ke tempat kerja pada suhu di bawah nol agar tidak terlihat, dan mereka menghindari meninggalkan rumah bersama-sama. Putra mereka sekarang berjalan dalam tidur sambil berteriak, “Turun! Turun! Mereka akan melihat kita!”

Masa Depan Masih Tidak Pasti

Keluarga tersebut mempertimbangkan untuk kembali ke Meksiko, tempat kartel merekrut anak-anak dan polisi tidak memberikan perlindungan. Mereka terjebak dalam situasi putus asa, mempertimbangkan bahayanya tetap tinggal atau kembali lagi. Ava terus-menerus menderita sakit kepala dan kesepian, sementara putra mereka menarik diri.

Situasi ini menyoroti kenyataan yang brutal: bahkan dengan pengawasan yang canggih, ICE beroperasi dengan kebrutalan yang tidak dapat diprediksi dan membuat komunitas imigran ketakutan. Penggerebekan ini bukan hanya tentang penegakan hukum; mereka ingin mengendalikan diri melalui rasa takut, memaksa keluarga untuk hidup dalam bayang-bayang, tidak yakin apakah mereka akan merasa aman lagi. Hal ini bukan sekedar kegagalan kebijakan; ini adalah taktik intimidasi yang disengaja dan menghancurkan kehidupan.