Aplikasi kencan Feeld, yang pernah menjadi platform khusus untuk gaya hidup alternatif dan hubungan terbuka, berubah dengan cepat. Apa yang awalnya merupakan ruang bagi individu yang berpoliamori, berbelit-belit, dan non-monogami kini semakin menarik basis pengguna yang lebih luas dan konvensional, sehingga membuat para anggota lama menamakannya “neraka yang normal”.
Bangkitnya Perasaan: Pertumbuhan dan Pergeseran Demografi
Diluncurkan pada tahun 2014 sebagai 3nder, Feeld membedakan dirinya dengan secara eksplisit melayani orang-orang di luar dunia kencan arus utama. Daya tarik aslinya terletak pada keterbukaannya terhadap eksplorasi seksual, etika non-monogami, dan identitas yang beragam. Namun, selama beberapa tahun terakhir, Feeld telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Dari tahun 2021 hingga 2025, keanggotaan melonjak sebesar 368 persen, dengan peningkatan pengguna baru hampir 200 persen. Perluasan ini telah membawa gelombang baru data, banyak di antaranya tidak terbiasa dengan budaya dan nilai asli aplikasi tersebut.
Menurut CEO Feeld Ana Kirova, perubahan ini bukan suatu kebetulan. Perusahaan beradaptasi untuk memenuhi permintaan yang lebih luas, mencerminkan apa yang diinginkan pengguna daripada memaksakan identitas yang kaku. Strategi ini telah membuahkan hasil secara finansial: pendapatan meningkat sebesar 26 persen pada tahun 2024, mencapai $65 juta, dengan pertumbuhan yang kuat di Jepang, Prancis, dan Meksiko.
Dampaknya terhadap Pengguna Inti
Namun, kesuksesan ini harus dibayar mahal. Pengguna veteran melaporkan penurunan nyata dalam atmosfer unik aplikasi. Masuknya data, penipu, dan bot “vanila” telah melemahkan daya tarik asli platform ini. Banyak yang merasa bahwa Feeld kehilangan identitasnya dan hanya menjadi aplikasi mirip Tinder dengan tampilan yang lebih kinkier.
Salah satu pengguna menggambarkan perubahan tersebut sebagai “penurunan terbesar dalam aplikasi kencan” yang pernah mereka lihat, dengan alasan peningkatan jumlah individu yang berpikiran tertutup secara seksual. Yang lain menyatakan kekhawatiran bahwa pertumbuhan aplikasi pasti akan mengarah pada akuisisi oleh konglomerat yang lebih besar, yang mengakibatkan penambangan data dan hilangnya privasi.
Tanggapan Feeld: Refleksi dan Tindakan Penyeimbangan
Untuk mengatasi permasalahan ini, Feeld meluncurkan “Refleksi,” sebuah alat penilaian mandiri berdurasi 30 menit yang dikembangkan dalam kemitraan dengan profesor Universitas Michigan, Apryl Williams. Survei ini bertujuan untuk mengukur keinginan, batasan, dan preferensi hubungan pengguna, termasuk kenyamanan mereka terhadap ketegaran dan etika non-monogami. Kirova berharap fitur ini dapat membantu menjaga identitas aplikasi sekaligus mengakomodasi pengguna baru.
“Saya ingin menemukan cara untuk memegang kedua kebenaran tersebut pada saat yang bersamaan,” katanya. “Ini adalah tindakan penyeimbang yang konstan.”
Masa Depan Perasaan
Feeld jelas berada di persimpangan jalan. Meskipun aplikasi ini tetap progresif—dengan heterofleksibilitas dan pengelompokan di antara tren-tren yang tumbuh paling cepat—perluasannya yang cepat telah menimbulkan pertanyaan tentang arah jangka panjangnya. Perusahaan bersikeras bahwa mereka menjaga privasi pengguna dengan serius dan tidak akan menjual data. Namun, kekhawatiran tetap ada di kalangan pengguna lama yang khawatir bahwa transformasi Feeld pada akhirnya akan menghapus komunitas khusus yang menjadikannya istimewa.
Untuk saat ini, aplikasi ini terus berkembang, berupaya menyelaraskan identitas aslinya dengan tuntutan khalayak yang lebih luas. Masih harus dilihat apakah tindakan penyeimbangan ini akan berhasil.




























